Nov
3
Ekpedisi Tampomas
Filed Under Ekpedisi
Ekpedisi Tampomas
16.30 wib, 12/6/2004 persiapan terakhir dilakukan, cek alat dan perelengkapan, packing dan rencana perjalanan yang akan segera dilakukan ditentukan. Titik persiapan adalah di rumah salah satu personil dari team ekpedisi, Zadoet (sukamaju). 2 cariel 60 L dan 1 cariel 80 L telah dipack sebaik mungkin, ketiganya memikul beban yang berbeda dimulai dari peralatan, logistic, pakaian , obat-obatan, dan kompan-kompan kosong untuk diisi air nanti di desa terakhir. Breafing dilakukan, aku, zadoet, dan eko apriel (pada saat itu ketiganya merupakan anggota GEMPA) menysusun rencana perjalanan. 15.00 dari titik persiapan kita meluncur menuju titik pertemuan dimana kami akan bertemu dengan team ekpedisi yang lainnya yaitu : Bong-q, Eka, felix the ucing, dan Echi. Titik pertemuan yang telah ditetntukan jauh-jauh hari sebelumnya adalah rumah eko apriel (Riung Bandung), titik pertemuan ini juga akan menjadi titik keberangkatan dari bandung menuju camp bawah di Sumedang sana.
I9.00 cek persiapan kembali dilakukan khususnya untuk 4 orang team lain yang baru datang. 1 cariel 60 L dan 3 daypack telah penuh terisi oleh berbagai perlengkapan pribadi dan logistic team. Untuk mempermudah maka seperti tadi kami kelompokan berbagai perlengkapan itu, logistic kami simpan dalam dua daypack dengan alasan untuk mempermudah pengambilan ketika dalam perjalanan nanti, peralatan dan perlengkapan pribadi kami masukan dalam cariel, dan satu daypack akan kami khususkan untuk membawa air. Breafing dilakukan. 22.00 disepakati sebagai waktu pemberangkatan dengan formasi sebagai berikut : Honda Mega pro ditumpangi aku dan eko apriel dengan beban cariel 80 L. Honda Supra fit dinaiaki oleh Bong-q dan Echi dengan Dua daypack disandangnya. Kawasaki Ninja membawa Eka dan Felix dengan 1 daypack di dada felik dan 1 cariel 60 L di punggung Eka, sedangkan zadoet asyik sendiri mengendarai Honda supranya dengan beban satu cariel dipunggung dan satu daypack didadanya.
Menyusuri jalanan Soekarno – Hatta (Baypas) kearah cibiru malam-malam merupakan perjalana mengasikan, dimana kebisingan lalu lintas sudah jauh berkurang pada jam-jam seperti itu. Lewat Cibiru, tak terasa Cilenyi pun telah dilalui, menyusul Jatinangor dan Tanjung Sari, maka dapat dipastikan sebentar lagi kita akan melewati jalan paling legendaries antara Bandung – Sumedang. Cadas Pangeran, itulah nama kawasan yang sebentar lagi akan kita lewati, sepi terasa, dengan hiasan jurang di sebelah kanan dan dinding cadas disebelah kiri serta belokan-belokan tajam yang mengharuskan kita untuk miring-miring menyeimbangkan laju kendaraan menambah asyiknya perjalanan. Tak jarang kami berteriak – teriak melepas beban kepenatan yang kami bawa di kota Bandung, kita lepaskan dengan harapan akan terkubur dalam Jurang Cadas Pangeran yang gelap gulita.
Tepat tengah malam kami singgah di sebuah pom bensin yang sudah termasuk kawasan Sumedang kota, Samoja itu nama daerahnya. Semua kendaraan kami kami beri minum sepuasnya maklum menurut aqi yang empunya kampung didaerahnya tidak adalagi Pom bensin, selain kios-kios bensin 2 – tak. Kami istirahat sejenak di taman yang ada di pom tersebut. Sambil menentukan kira-kira berapa jam lagi perjalanan kami untuk sampai pada camp I yaitu rumah ku. “Kurang lebih ½ jam lagi, lah kita akan sampai di gubuku”, penjelasanku sedikit melegakan dan menambah semnagat team untuk segera melanjutkan perjalanan. Berangkat kita…….
Kemudi Mega Pro kini dipegang olehku, tiga motor lainnya mengikuti. 20 menit sudah perjalanan dilakukan kami dihadapkan pada tanjakan panjang yang disebut Pasiringkig oleh orang-orang dikampungku. Kabut tebal mulai mengiringi perjalanan kami, “Edan, jarak pandang Cuma 1 meter men” teriak eko april. Sampai diujung tanjakan kami mulai menyusuri jalann menurun yang terus-menerus menurun sepanjang kurang lebih 4 kilometer, kabut tebal masih menyelimuti, “pol men, tracknya naik turun”kembali eko apriel berteriak disambut teriakan-teriakan anggota team ekpedisi lain.
00.30 WIB, semua motor telah masuk kerumah aqi, orang tuanya menyambut dengan ramah, basa-basi sedikit dilakukan bahkan beliau segera menyalakan Hawu (perpian – Red) dan memasak liwet untuk kita makan. 7 orang bergelimpangan beralaskan tikar menghadap Hawu yang sedang memasak liwet, entah kekenakan karena hangat atau keletihan satu persatu mulai ngak menyahut ketika ku ajak bicara. Kusuruh mereka pinadah kekamar yang telah kusediakan namun tak stupun yang mau beranjak selain echi yang kupaksa untuk pindah karena dia satu-satunya perempuan dalam team kali ini. Akupun segera meluruskan tubuhku diantara rekan-rekan yang telah lelap sementara perapian kubiarkan menyala agar dapat mengahangatkan tubuh tentunya dengan mengangkat liwetnya terlebih dahulu biar ngak gosong.
07.30 team ekpedisi sudah kembali Ngariung (Berkumpul) didepan Hawu dengan segelas kopi, sepotong pisang goreng dan sebatang rokok menghiaai tangan kami, makanan yang sengaja disiapkan oleh ibuku jauh sebelum kami bangun dan mandi. “mun dek arangkat, kade taruang hela, lebar eta liwet nu wengi” (kalo mau berangkat jangan lupa makan dulu,sayang nasi liwet yang malam belum dimakan) ibuku berujar dalam bahasa sundanya yang kental sambil pamitan krena ibuku harus pergi kesekolah menjalankan kewajibannya sebagai Guru. Aku kembali mengecek persiapan dan segera menghubungi kakaku yang ketika itu berkerja ebagai supir angkot di kampungku, untuk mengantarkan kami ke Desa Terakhir di kai Tampomas, sedangkan rekan-reakan lainnya asik mendengarkan cerita Ayahku mengenai Tampomas.
09.30 semua barang telah masuk kedalam mobil kakaku, dan kami pun segera berpamitan untuk segera menuju pos I pendakian Gunung Tampomas. Mobil melaju kencang hingga tak terasa kami sudah memasuki kawasan Cimalakadan mobil kakaku segera berbelok kearah Citimun, untuk menuju Cipadayungan yang telah kami rencanakan sebagai titik awal pendakian.
10.30 kami sampai di bumi perkemahan Cipadayungan, Citimun Sumedang. Disini terdapat Curug Cipadayungan yang merupakan salah satu obyek wisata kota Sumedang. Kami berkumpul di bawah Pohon Kemiri yang menjadi gerbang jalan setapak yang akan kami tapaki yang merupakan jalur pendakian yang akan kami tempuh dan kami sebut sebagai Pos I dan kami namai Dengan sebutan Lawang Muncang (muncang adalah kemiri dalam bahasa sunda). Aku dan echi diam disana menunggu barang-barang kami sedangkan anggota team lain singgah dulu ke Curug Cipadayungan sekedar untuk melihat, cucimuka dan mengambil sedikit air untuk bekal samapi pos II karena kami akan mengisi persediaan air nanti di pos II sekaligus Shalat Dhuhur, begitu rencana perjalan yang telah kami sepakati.
Doa dipanjatkan, Aqi sebagai Pimpinan Ekpedisi memimpin Doa sekaligus memberikan sambutan dan sedikit ulasan mengenai adapt-kebiasaan di daerah ini dan pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar. Orientering dilakukan, kompas mulai bekerja, bidikan kearah puncak menjadi patokan kami dalam melakukan pendakian. Formasi ditentukan eko april didepan sebagai navigator, diikuti felik dan bong-q, echi dan eka menyusul, dan zadoet dan aku sebagai penyapu.11.00 tepat kami mulai berjalan.
Jalur menanjak dengan kemiringan sekitar 50o serta vegetasi Vaneli menghiasi awa perjalanan kami, kami perkirakan ketinggian kurang lebih 500 – 700 MDPL, habis perkebunan vaneli milik warga maka vegetasi mulai berubah menjadi vinus dan trak sedikit berkrang kemiringannya. Hampir 1 jam perjalanan maka kaipun sampai pos II. Pelataran yang cukup luas dengan beberapa bekas perapian yang tela lama padam menyakinkan kami bahwa ini merupakan shelter bagi para pendaki atau masyarakat yang naik gunung. Dibawah vinus yang agak besar kami temukan semacam bak tembok berbentuk persegi yang ditanam ditaha dengan tutup beton diatasnya, anehnya tutup beton ini seakan-akan mengambang dan kelihatan naik turun oleh dorongan air yang melonjak-lonjak didalam bak tersebut melihat hal itu maka kami namakan pos II ini dengan sebutan Pos Cai Murag. Kemudian sebuah pipa berukuran betis manusia mengalirkan air tersebut kabawah dan hilang dibalik tanah, mungkin penduduk sengaja membuat tempat ini sebagai sumber air bersih. Kami beristirahat disana semua kompan dan wadah-wadah yang dapat kami isi dengan air kami penuhi semua, karena setelah pos ini tidak akan adalagi sumber air yang dapat dimanfaatkan selain menampung embun, atau mencari kantung semar. Kamipun melaksanakan shalat dhuhur di pos ini secara bergantian, sementara untuk masak kami rasa belum perlu hanya menyantap biscuit dan cemilan-cemilan kecil yang paling mudah kami keluarkan dari daypack.
13.00 perjalana kami lanjutkan, vegetasi masih vinus namun sudah mulai jarang. Habis vegetasi vinus maka muali lah vegetasi tumbuhan gunung terlihat. Jalur mulai berbatu dan kemiringan tanjakan mulai meningkat drastis sekiatar 60 – 80o . beban mulai terasa lebih, kaki-kaki mulai bertambah berat untuk dilangkahkan dan nafas-nafas kami mulai memburu mengikuti detak jantung yang makin cepat. Tepat didepan kami, jalur yang kami tapaki terlihat makin menanjak, bahkan tangan kami harus ikut bekerja menyeimbangkan badan kami. Dan diujung trak tepat dibalik satu pohon besar jalur tidak kelihatan lagi, kami pikir mungkin trak akan memberikan hadiah berupa track lurus atau menurun pikir kami, ternyata tidak dibalik pohon besar itu tark melingkar keselatan dengan tetap menanjak, namundibawah pohon itu juga kami menemukan satu Batu yang ukurannya hampir sebesar rumah, dan di sisinya ada dua makam tanpa nama yang disekelilingnya banyak beserakan sesajen yang sudah mongering. Aku berhenti sejenak didepan kedua makam itu, kupanjatkan doa dan tahlil untuk yang empunya makam, sedangkan rekan-rekan lain beristirahat disekeliling Batu Gede (begitu kami menamakan daerah tersebut dan kami tatpkan sebagai Pos III).
Perjalanan dilanjutkan, kini track batu sudah tidak terlihat lagi, kerapatan pepohonan mulai terasa jarang dan semilir angina mulai tersa sejuk di punggung kami yang berkeringat, maklum ketinggian kami pada saat itu kurang lebih 1200 – 1500 MDPL. Kemiringan konstan berkisar 50 – 60 o.. waktu menunjukan pukul 14.00 WIB, perut kami mulai berteriak minta diiisi, maka aku memutuskan untuk segera beristirahat tentunya setelah sampai di pos IV. Pos IV adalah akhir dari tanjakan yang nantiny jalur akan sedikit menurun. Di pos ini kami segera menyaipkan peralatan masak, dan echi sebagai satu-satunya perempuan dalam team tentulah kebagian masak, dibantu oleh eka dan Felik, anggota team lain setelah orientasi medan dan menentukan jalur beristirahat sambil bersenda gurau. Makan siang dengan menu nasi, mie instant, dan sarden menjadi santapan kami saat itu, cukuplah untuk bekal menghadapi dua pos lagi untuk sampai kepuncak. Istirahat sejenak setelah makan, packing ulang dan perjalana siap dalanjutkan.
Dari pos IV kami dihadapkan pada jalur yang berupa tebing pendek dengan seutas wayer kawat sebagai pegangan yang diikatkan pada dua pohon diujung tebing. Kami berjalan stu-persatu…
Comments
3 Responses to “Ekpedisi Tampomas”
Leave a Reply

pa kabar kawan2 semua..
kangen neh…
PP No.2 Th.2008
PP mengatur jenis + tarif penerimaan negara bukan pajak
yang berasal dari penggunaan kawasan hutan
untuk kepentingan pembangunan diluar kegiatan kehutanan
yang berlaku pada dept.Kehutanan
pelaku pertambangan boleh mengubah hutan lindung / produksi
menjadi kawasan tambang terbuka dengan menyewa :
Rp. 300 per meter atau Rp. 1,8 juta – 3 juta per hektar
untuk tambang minyak + gas, panas bumi, jaringan telekomunikasi,
stasiun pemancar radio / relay TV, tenaga listrik dan jalan tol
Rp. 120 per meter atau Rp. 1,2 juta – 1,5 juta per hektar
mantaf perjalananya kang…
Htur nuhun tos ameng ka Sumedang & Tampomas..
Salam,